Kamis, 23 Februari 2017

SIARAN PERS KKP Lepaskan Penyu Hasil Tangkapan di Kepulauan Aru, Maluku

Polres Kabupaten Aru (Senin, 20/2) telah menangkap 5 orang nelayan yang disinyalir membawa 38 ekor penyu dan pulau Eno, Aru Bagian Tenggaran, Maluku untuk diperdagangkan. Dari 38 ekor penyu tersebut terindikasi 6 ekor penyu mati. Petugas lapangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Wilayah Kerja Aru Bagian Tenggara yang merupakan unit kerja pengelola Suaka Alam Perairan (SAP) Aru Bagian Tenggara langsung melakukan koordinasi dengan Kapolres Aru dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Aru untuk menindaklanjuti kejadian tersebut, demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Jakarta (23/2).   
Wakil Bupati Aru ikut serta melakukan pelepasan penyu
Pelepasan Penyu Oleh Tim Gabungan

Rabu, 22 Februari 2017

Pulau Wundi, Pintu Masuk Wisatawan ke TWP Padaido


Pulau Wundi, Pintu Masuk Wisatawan ke TWP Padaido
Apa yang terlintas ketika berbicara mengenai wisata Papua ??? Pasti semua mata akan tertuju ke Raja Ampat. Memang benar saat ini pariwisata Raja Ampat sedang naik daun karena didukung dengan alam laut dan pengelolaan yang memiliki magnet untuk menarik hati para wisatawan. Tetapi perlu diketahui bahwa Papua itu luas bukan hanya Raja Ampat, masih banyak keindahan alam laut di Papua yang belum diketahui. Bagaimana dengan Provinsi Papua sendiri, tak kalah dengan Raja Ampat. Salah satu gugusan kepulauan yang berada di Papua lebih tepatnya terletak di Kabupaten Biak Numfor, yang bernama Kepulauan Padaido.

Kepulauan Padaido adalah gugusan kepulauan yang terletak di sebelah tenggara Pulau Biak dan berada disekitar Teluk Cendrawasih. Padaido merupakan salah satu kawasan konservasi, dimana kawasan ini dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan. Kepulauan Padaido berupa kawasan konservasi dengan nama Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Padaido dibawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dulunya Kepulauan Padaido bernama Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Padaido Biak yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementerian Kehutanan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 91/Kpts-VI/1997 tanggal 13 Februari 1997. Seiring berjalannya waktu dan dengan adanya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014, maka sebagian kawasan konservasi laut yang sudah dibentuk diserahkan pengelolaannya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Tahun 2009. Ini pun berlaku untuk Kepulauan Padaido dengan ditetapkannya sebagai Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan Laut di Sekitarnya dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.68/MEN/2009, selanjutnya Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan Laut Disekitarnya dengan Keputusan Menteri Nomor 62/KEPMEN-KP/2014.

TWP Padaido secara administrasi terletak di dua distrik yakni, Distrik Padaido dan Distrik Aimando. TWP Kepulauan Padaido dengan luas 183.000 hektar dengan jumlah pulau sekitar 30 pulau, Dari banyaknya pulau tersebut hanya 8 pulau yang berpenduduk, 4 pulau berada di Distrik Padaido, yakni Pulau Pai sebagai ibukota distrik, Pulau Auki, Pulau Wundi dan Pulau Nusi, sedangkan 4 pulau lainnya berada di Distrik Aimando, yakni Pulau Meosmangguandi, Pulau Pai sebagai ibukota distrik, Pulau Mbromsi dan Pulau Padaidori.

Dijadikannya Padaido sebagai kawasan konservasi berupa taman wisata perairan sangat tepat dengan tujuan utama wisata bahari di Kabupaten Biak Numfor keindahan alam laut yang tak kalah bagusnya dengan daerah lain di Indonesia. Pantai dengan pasir putih dan masih jauh dari jamahan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, pemandangan bawah laut terumbu karang dan ikan yang berwarna warni walaupun tidak dapat dipungkiri telah mengarami sedikit kerusakan, ditambah lagi disekitar perairan Padaido terdapat peninggalan Perang Dunia II yang berada di bawah laut, seperti kapal karam dan peralatan perang.
Untuk mendukung pengelolaan di TWP Kepulauan Padaido, BKKPN Kupang menjadikan Pulau Wundi sebagai pintu masuk ke TWP Padaido. Pintu masuk ini dimaksudkan sebagai gerbang bagi para wisatawan sebelum melakukan aktivitas wisata sehingga kegiatan pariwisata di dalam kawasan TWP Padaido dapat dikontrol. Dipilihnya Pulau Wundi sebagai pintu masuk bukan tanpa alasan. Keindahan Pulau Wundi dan fasilitas yang ada di pulau ini menjadi alasan dijadikannya sebagai pintu masuk TWP Padaido.
Wundi Cave
Beberapa alasan dijadikannya Pulau Wundi sebagai pintu masuk TWP Padaido……..
Jarak Relatif Dekat. Pulau Wundi yang terletak di Distrik Padaido memiliki jarak yang relatif dekat dari daratan utama Pulau Biak. Waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan perahu mesin tempel 15 PK.
Akomodasi.  Pulau Wundi memiliki penginapan yang saat ini masih berjalan dengan baik yang dikelola oleh masyarakat dilengkapi dengan gazebo sebagai tempat bersantai. Walaupun terdapat penginapan di beberapa pulau di Padaido, seperti Pulau Pasi dan Pulau Rasi tetapi masih dalam proses pembangunan.
Dive Operator. Di Pulau Wundi terdapat dive operator yang dikelola oleh masyarakat (Om Erik Farwas) dengan sarana yang terbilang lengkap, seperti speed yang dapat mengantar wisatawan dan alat scuba diving (tabung, masker, snorkel dan fins).
Listrik. Pulau Wundi merupakan satu-satunya pulau di Padaido yang sudah dialiri listrik walaupun waktu beroperasi belum 24 jam. Adanya listrik di Pulau Wundi sebagai program dari PLN untuk menjangkau setiap daerah-daerah pelosok di Indonesia. Sekedar informasi bahwa listrik di Pulau Wundi mulai beroperasi sekitar bulan Desember 2016.
Ekosistem. Pulau Wundi merupakan salah satu pulau di TWP Padaido yang memiliki ekosistem laut yang lengkap, seperti Terumbu Karang, Lamun dan Mangrove semua dapat ditemukan di ini. Ekosistem ini pun dapat dikelola untuk menunjang kegiatan pariwisata dan pendidikan di Pulau Wundi.
Sarana dan Prasarana Lainnya. Disamping itu, Pulau Wundi memiliki sarana prasarana lainnya, seperti tempat ibadah (gereja), sekolah, puskesmas dan polsek yang mendukung kegiatan dan pengelolaan TWP Padaido.
Keindahan Pulau Wundi. Inilah salah satu alasan yang tak kalah pentingnya sehingga Pulau Wundi dijadikan pintu masuk. Keindahan pulau ini tidak kalah dengan pulau lain di Indonesia. Apa saja yang ada dan dapat dilakukan di Pulau Wundi ??? Pantai dan Pasir Putih, pantai di Pulau Wundi ditaburi dengan pasir putih yang masih jarang sampah. Goa Bawah Laut (Wundi Cave), salah satu spot diving favorit dan wajib diselami bagi para diver jika berkunjung ke TWP Padaido, jadi goa bukan hanya dapat ditemukan di darat saja, tetapi di dalam laut pun ada goa. Font Box TWP Padaido, spot berfoto yang wajib diabadikan lewat kamera wisatawan sebagai bukti yang dapat ditunjukkan ke orang lain kalau sudah pernah ke TWP Padaido. Font Box ini merupakan program dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sunset dan Sunrise, menikmati matahari terbit dan tenggelam, Pulau Wundi sebagai pilihan yang tepat. Snorkling dan Berenang, Pulau Wundi bisa dijadikan tempat yang cocok untuk sekedar berenang dan snorkeling karena memiliki beberapa spot yang kondisi terumbu karang yang masih bagus. Berinteraksi dengan Masyarakat, jika berkunjung ke Pulau Wundi tidak ada salahnya untuk berinteraksi dengan penduduk lokal, melihat bahkan ikut melakukan apa yang dikerjakan penduduk, seperti mollo gurita dan kerrang (mollo merupakan Bahasa Biak yang berarti menyelam, tetapi tanpa alat scuba), asar (asap) ikan dan kerang, pembuatan minyak kelapa secara tradisional dan masih banyak lagi.
Sunset dari Pulau Wundi
Bagaimana menuju Pulau Wundi ??? Bagi yang berasal dari luar Pulau Biak dapat menggunakan transportasi udara menuju Bandara Frans Kaisiepo, Biak. Dari bandara dapat menggunakan mobil rental ataupun angkutan umum menuju Pelabuhan Bosnik atau Opiaref. Selanjutnya dari situ anda menggunakan menyeberang menggunakan perahu nelayan yang dapat disewa karena belum ada kapal reguler menuju Kepulauan Padaido. Untuk sampai di Kepulauan Padaido dapat ditempuh sekitar 45 menit (Distrik Padaido, termasuk Pulau Wundi) sampai 2,5 jam (Distrik Aimando).

Jadi jika bicara wisata Papua, tidak lagi hanya Raja Ampat. TWP Padaido pun bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati wisata bahari di Papua. Tetapi harus menjadi wisatawan yang bertanggung jawab. Seperti petikan kode etik wisatawan dari Pesona Indonesia…
“Jangan Ambil Apapun Kecuali Gambar, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak, Jangan Bunuh Apapun Kecuali Waktu”
“Nikmati Keindahannya, Jaga Kelestariannya, Jadilah Wisatawan Yang Bertanggung Jawab”

-Setiawan Mangando-

Selasa, 21 Februari 2017

LENTERA PENYU OETUNE

‘’secerca harapan tukik penyu di padang pasir oetune’’
Wisata Pantai Oetune
Pantai Oetune merupakan wilayah Kawasan Konservasi TNP Laut Sawu yang dikelola oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang (BKKPN Kupang), Pantai Oetune berjarak kurang lebih 114,6 km dari kupang dengan waktu normal 3-4 jam jalur darat dari pusat kota kupang, secara administrasi Pantai Oetune Berada di Desa Tuafanu, Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pantai Oetune dijadikan objek wisata oleh masyarakat NTT maupun luar NTT Karena keindahan pantainya yang menyerupai padang pasir di negara-negara timur tengah.

Dibalik keindahan pantainya yang luar biasa, Pantai Oetune juga menjadi rumah bagi tukik-tukik kecil yang ingin melihat keindahan dunia tetapi kesempatan tukik-tukik kecil untuk melihat dunia semakin kecil dengan maraknya pemburuan telur-telur penyu dan penyu dewasa. Indonesia tercatat memiliki enam jenis penyu dari tujuh spesies penyu penyu di dunia yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydasa), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Pipih (Natator depressus), Penyu Belimbing (Dermochelys) serta Penyu Tempayan (Caretta caretta). Menurut Bapak Jonson sekretaris kelompok Paseun salah satu kelompok pemerhati penyu di Oetune ada tiga jenis penyu yang bertelur di pantai Oetune yakni Penyu Lekang, Penyu Sisik dan Penyu Belimbing dari ketiga jenis penyu tersebut penyu lekang merupakan jenis penyu yang banyak ditemukan.
Tukik Penyu di Penangkaran
Menurut data monitoring BKKPN Kupang dan Kelompok Paseun tahun 2016, sebanyak 365 tukik jenis penyu lekang yang menetas di penangkaran dan dilepas ke laut. Range pelepasan tukik terjadi pada bulan Mei sebanyak 170 ekor dan bulan Agustus 195 ekor.

Penyu merupakan spesies yang rentan terhadap siklus kehidupanya, beberapa ahli mengatakan dari 1000 tukik hanya akan ada 1 tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Tingkat keberhasilan hidup penyu sampai usia dewasa sangat rendah, para ahli mengatakan bahwa hanya sekitar 1-2% saja dari jumlah telur yang dihasilkan. Penyu termasuk satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan bertelur. Penyu menghabiskan waktunya di laut akan tetapi setelah dewasa dan matang untuk bertelur penyu tersebut akan menuju daratan untuk bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, yang akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakkan ratusan butir telurnya di dalam pasir yang digali.

Berdasarkan data IUCN bahwa penyu laut masuk dalam Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies yang Terancam). Semakin maraknya pemburuan Penyu oleh manusia dengan masih banyaknya exploitasi daging dan cangkang penyu secara illegal dan penangkapan menggunakan pukat penyu, selain itu cangkang penyu juga dipakai untuk kerajinan tangan, seperti perhiasan, pajangan rumah dan lain-lain. Ancaman juga terjadi pada habitat peneluran penyu dengan pemakaian ruang laut yang tidak kompetibel seperti pembangunan di pesisir, penambangan pasir dan budidaya rumput laut. Dalam perdagangan satwa internasional, semua jenis penyu masuk dalam appendix I CITES (Convension on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang artinya semua perdagangan penyu secara komersial dilarang.

Bersama Kelompok Paseun
Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pelestarian penyu, BKKPN Kupang telah melakukan beberapa program baik pelatihan, sosialisasi dan membangun prasarana yang layak untuk mendukung pelestarian penyu. Salah satunya dengan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya menjaga pelestarian lingkungan hidup dengan membentuk ‘’Sahabat TNP Laut Sawu’’. Sahabat TNP Laut Sawu ini diharapkan dapat menjadi gerbang pertama dalam melakukan pengawasan dan penyadaran kepada masyarakat lainnya. Selain itu BKKPN Kupang juga telah membuat prasarana pembangunan demplot penyu guna menunjang kegiatan kelompok dalam menjaga pelestarian hidup penyu. 

Pantai oetune memliki potensi untuk dikembangkan kedepannya, kolaborasi wisata dengan memadukan wisata pantai dengan pendidikan konservasi penyu bagi para wisatawan. Pengenalan penyu bagi generasi muda siswa sekolah dasar (SD) , sekolah menengah pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan sampai Perguruan Tinggi dengan melakukan praktek lapang diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pelestarian penyu dan menambah pengetahuan tentang penyu. kolaborasi wisata ini diharapkan dapat memberikan peluang usaha kepada masyarakat setempat seperti usaha warung makanan, asesoris khas daerah dan usaha toko baju. Dengan adanya sentuhan bisnis ini diharapkan dapat mengakhiri perdagangan penyu dan mendorong masyarakat agar tidak mengkonsumsi daging dan telur penyu serta membuat kerajinan/asesoris dari cangkang penyu.

Rabu, 04 Mei 2016

Coral Bleaching Ancam TNP Laut Sawu, BKKPN, TNC dan Reff Check Lakukan Survei Puncak Pemutihan



Menanggapi adanya kenaiakan suhu permukaan laut pada bulan Maret dan April 2016 di perairan Laut Sawu, menjadi ancaman bagi terumbu karang di wilayah tersebut, ini disebebkan alga (zooxanthellae) yang melakukan simbiosis mutualisme dengan karang akan stres berada di perairan dengan suhu di atas 29 hingga 30 derajat celsius. Kenaikan suhu tersebut membuat alga akan keluar meninggalkan terumbu karang dan menyebabkan pemutihan karang (Coral Bleaching).

(sumber : P3SDLP Balitbang KP, Satelit NOAA)
(sumber : P3SDLP Balitbang KP, Satelit NOAA)












Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang bersama The Nature Conservancy Program Laut Sawu dan Reef Check Indonesia selaku pemangku kepentingan di TNP Laut Sawu melakukan rencana pemantauan kesehatan terumbu karang dan pemutihan karang dengan metode Survei Puncak pemutihan, metode ini berdasarkan Bleaching Alert  Pada Panduan Pemutihan Terumbu Karang yang dibuat oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut.

Rapat Persiapan Survei Puncak Pemutihan (4/05/2016)

Survei Pemantauan akan dilaksanakan di delapan kabupaten yaitu mulai dari Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijuan, Kupang, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, Manggarai, dan berkhir di Kabupaten Manggarai Barat. 

Dengan adanya survei ini diharapakan dapat mengetahui sebaran karang yang teridentifikasi pemutihan karang, dan data tersebut dapat menjadi data dasar untuk pemantauan selanjutnya. (Suhaidi,Kastian)