Selasa, 21 Februari 2017

LENTERA PENYU OETUNE

‘’secerca harapan tukik penyu di padang pasir oetune’’
Wisata Pantai Oetune
Pantai Oetune merupakan wilayah Kawasan Konservasi TNP Laut Sawu yang dikelola oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang (BKKPN Kupang), Pantai Oetune berjarak kurang lebih 114,6 km dari kupang dengan waktu normal 3-4 jam jalur darat dari pusat kota kupang, secara administrasi Pantai Oetune Berada di Desa Tuafanu, Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pantai Oetune dijadikan objek wisata oleh masyarakat NTT maupun luar NTT Karena keindahan pantainya yang menyerupai padang pasir di negara-negara timur tengah.

Dibalik keindahan pantainya yang luar biasa, Pantai Oetune juga menjadi rumah bagi tukik-tukik kecil yang ingin melihat keindahan dunia tetapi kesempatan tukik-tukik kecil untuk melihat dunia semakin kecil dengan maraknya pemburuan telur-telur penyu dan penyu dewasa. Indonesia tercatat memiliki enam jenis penyu dari tujuh spesies penyu penyu di dunia yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydasa), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Pipih (Natator depressus), Penyu Belimbing (Dermochelys) serta Penyu Tempayan (Caretta caretta). Menurut Bapak Jonson sekretaris kelompok Paseun salah satu kelompok pemerhati penyu di Oetune ada tiga jenis penyu yang bertelur di pantai Oetune yakni Penyu Lekang, Penyu Sisik dan Penyu Belimbing dari ketiga jenis penyu tersebut penyu lekang merupakan jenis penyu yang banyak ditemukan.
Tukik Penyu di Penangkaran
Menurut data monitoring BKKPN Kupang dan Kelompok Paseun tahun 2016, sebanyak 365 tukik jenis penyu lekang yang menetas di penangkaran dan dilepas ke laut. Range pelepasan tukik terjadi pada bulan Mei sebanyak 170 ekor dan bulan Agustus 195 ekor.

Penyu merupakan spesies yang rentan terhadap siklus kehidupanya, beberapa ahli mengatakan dari 1000 tukik hanya akan ada 1 tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Tingkat keberhasilan hidup penyu sampai usia dewasa sangat rendah, para ahli mengatakan bahwa hanya sekitar 1-2% saja dari jumlah telur yang dihasilkan. Penyu termasuk satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan bertelur. Penyu menghabiskan waktunya di laut akan tetapi setelah dewasa dan matang untuk bertelur penyu tersebut akan menuju daratan untuk bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, yang akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakkan ratusan butir telurnya di dalam pasir yang digali.

Berdasarkan data IUCN bahwa penyu laut masuk dalam Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies yang Terancam). Semakin maraknya pemburuan Penyu oleh manusia dengan masih banyaknya exploitasi daging dan cangkang penyu secara illegal dan penangkapan menggunakan pukat penyu, selain itu cangkang penyu juga dipakai untuk kerajinan tangan, seperti perhiasan, pajangan rumah dan lain-lain. Ancaman juga terjadi pada habitat peneluran penyu dengan pemakaian ruang laut yang tidak kompetibel seperti pembangunan di pesisir, penambangan pasir dan budidaya rumput laut. Dalam perdagangan satwa internasional, semua jenis penyu masuk dalam appendix I CITES (Convension on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang artinya semua perdagangan penyu secara komersial dilarang.

Bersama Kelompok Paseun
Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pelestarian penyu, BKKPN Kupang telah melakukan beberapa program baik pelatihan, sosialisasi dan membangun prasarana yang layak untuk mendukung pelestarian penyu. Salah satunya dengan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya menjaga pelestarian lingkungan hidup dengan membentuk ‘’Sahabat TNP Laut Sawu’’. Sahabat TNP Laut Sawu ini diharapkan dapat menjadi gerbang pertama dalam melakukan pengawasan dan penyadaran kepada masyarakat lainnya. Selain itu BKKPN Kupang juga telah membuat prasarana pembangunan demplot penyu guna menunjang kegiatan kelompok dalam menjaga pelestarian hidup penyu. 

Pantai oetune memliki potensi untuk dikembangkan kedepannya, kolaborasi wisata dengan memadukan wisata pantai dengan pendidikan konservasi penyu bagi para wisatawan. Pengenalan penyu bagi generasi muda siswa sekolah dasar (SD) , sekolah menengah pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan sampai Perguruan Tinggi dengan melakukan praktek lapang diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pelestarian penyu dan menambah pengetahuan tentang penyu. kolaborasi wisata ini diharapkan dapat memberikan peluang usaha kepada masyarakat setempat seperti usaha warung makanan, asesoris khas daerah dan usaha toko baju. Dengan adanya sentuhan bisnis ini diharapkan dapat mengakhiri perdagangan penyu dan mendorong masyarakat agar tidak mengkonsumsi daging dan telur penyu serta membuat kerajinan/asesoris dari cangkang penyu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar